Berita Lainnya: Daftar Saham Tercuan & Terboncos Juli, Ada Di Porto Kamu?
Link: https://bit.ly/3oKXyPE
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen (APSyFI), Redma Gita Wirawasta menyampaikan kekhawatiran terhadap salah satu poin dalam rencana perjanjian dagang preferensial Indonesia- Bangladesh atau Indonesia-Bangladesh Preferential Trade Agreement (IB-PTA). Dimana pasar 160 HS garmen yang diminta Bangladesh bisa mengancam keberlangsungan industri garmen lokal yang terkait.
Sementara itu Ekonom INDEF, Ahmad Heri Firdaus memandang perlunya Pemerintah mengkaji ulang permintaan Bangladesh terkait pasar yang bisa memberi dampak negatif bagi industri tekstil dalam negeri, mengingat sektor ini merupakan padat karya dan jika mengalami tekanan makan PHK bisa mengancam.
Seperti apa kekhawatiran pengusaha tekstil terhadap perjanjian dagang RI-Bangladesh? Selengkapnya simak dialog Andi Shalini dengan Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen (APSyFI), Redma Gita Wirawasta dan Ekonom INDEF, Ahmad Heri Firdaus dalam Evening Up di CNBC Indonesia (Jum’at, 29/07/2022)
Terus ikuti berita ekonomi bisnis dan analisis mendalam hanya di https://www.cnbcindonesia.com/.
CNBC Indonesia terafiliasi dengan CNBC Internasional dan beroperasi di bawah grup Transmedia dan tergabung bersama Trans TV, Trans7, Detikcom, Transvision, CNN Indonesia dan CNN Indonesia.com.
CNBC Indonesia dapat dinikmati melalui tayangan Transvision channel 805 atau streaming melalui aplikasi CNBC Indonesia yang dapat di download di playstore atau iOS.
Follow us on social: Twitter: https://twitter.com/cnbcindonesia
Facebook Page: https://www.facebook.com/CNBCIndonesia/
Instagram: https://www.instagram.com/cnbcindonesia/
https://www.instagram.com/cuap_cuan/
Tiktok: https://bit.ly/38BYtJx
Spotify: https://spoti.fi/2BR7KkT