Kenaikan suku bunga BI di tengah rencana The Fed mengerek FFR sebagai upaya mencapai target inflasi 2% masih menjadi kekhawatiran pelaku pasar keuangan global.
Direktur Investasi KISI Asset Management, Arfan F. Karniody memandang ada potensi The Fed menaikkan suku bunga acuan sebanyak satu kali hingga akhir tahun 2023.
Proyeksi ini didasarkan pada data kenaikan suku bunga yang sudah sebesar 500 Bps namun baru direspon oleh pasar dengan reli yield bond yang masif dalam 2 bulan terakhir hingga saat ini mencapai 5%. Oleh karena itu posisi FFR 5,25% atau 5,5% dinilai sudah cukup untuk merespon kondisi pasar maupun pertumbuhan ekonomi AS.
Diperkirakan The Fed belum akan memangkas suku bunga acuan di 2024 mengingat target inflasi belum tercapai dan ekonomi AS masih kuat masih mencapai 4,9% di Q3-2023 jauh di atas ekspektasi pasar 4,6%.
Seperti apa pelaku pasar melihat arah kebijakan The Fed? bagaimana dampaknya bagi pasar keuangan global dan domestik? Selengkapnya simak ulasan Bramudya Prabowo dengan Direktur Investasi KISI Asset Management, Arfan F. Karniody dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Jum’at, 27/10/2023)
Terus ikuti berita ekonomi bisnis dan analisis mendalam hanya di https://www.cnbcindonesia.com/.
CNBC Indonesia terafiliasi dengan CNBC Internasional dan beroperasi di bawah grup Transmedia dan tergabung bersama Trans TV, Trans7, Detikcom, Transvision, CNN Indonesia dan CNN Indonesia.com.
CNBC Indonesia dapat dinikmati melalui tayangan Transvision channel 805 atau streaming melalui aplikasi CNBC Indonesia yang dapat di download di playstore atau iOS.
Follow us on social:
Twitter: https://twitter.com/cnbcindonesia
Facebook Page: https://www.facebook.com/CNBCIndonesia/
Instagram: https://www.instagram.com/cnbcindonesia/
https://www.instagram.com/cuap_cuan/
Tiktok: https://bit.ly/38BYtJx
Spotify: https://spoti.fi/2BR7KkT