Sunday, 16 August, 2026г.
russian english deutsch french spanish portuguese czech greek georgian chinese japanese korean indonesian turkish thai uzbek

пример: покупка автомобиля в Запорожье

 

Para Pemain & Pelatih Asing Yang Terlantar Akibat Gaji Tak Dibayar, Bahkan Ada Yang MENlNG6AL DUNlA

Para Pemain & Pelatih Asing Yang Terlantar Akibat Gaji Tak Dibayar, Bahkan Ada Yang MENlNG6AL DUNlAУ вашего броузера проблема в совместимости с HTML5
Berikut saya sajikan 6 kasus pemain dan pelatih asing di Liga Indonesia yang terlantar akibat tertunggak gajinya. Bahkan hingga meninggal dunia. KASUS PERTAMA: David Bala, pemain Kalteng Putra klub Liga 1 musim 2019 Ini kasus paling gress. Seperti yang dikatakan Antonio Teles, agen David Bala kepada kepada Jawa Pos, David sudah hampir 40 hari mengalami cidera dan belum ada tindakan operasi sama sekali. Pihak manajemen klub Kalteng Putra sempat berjanji memfasilitasi operasi itu dua pekan lalu. Tapi, hingga saat ini, belum ada tindakan sama sekali. Mirisnya, Bala belum pernah menerima gaji seperser pun dari manajemen. Antonio Teles sudah berusaha mengontak pihak manajemen klub. Namun, hasilnya nihil. Menurutnya, semua masih sebatas janji saja,” kata agen asal Brasil tersebut. Yang jadi masalah, David Bala jika kondisi cedera parah tak segera tertangani, bisa mengakhiri karir David di lapangan hijau. KASUS KEDUA: Diego Mendieta, pemain Persis Solo, Divisi Utama PT Liga Indonesia Mantan pemain Persis Solo yang berlaga di Divisi Utama PT Liga Indonesia, Diego Mendieta mengembuskan nafas terakhir di RS Moewardi Solo, desember 2012 silam. Diego menderita penyakit dalam beberapa bulan terakhir yang membuatnya harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani perawatan. Ironisnya, Diego kesulitan uang untuk membiayai perawatan karena gajinya selama empat bulan terakhir di Persis Solo belum dibayarkan pihak manajemen. Kisah tragis Diego Mendieta ini sempat mengguncang dunia sepakbola Indonesia. Bahkan mendapat teguran keras dari dunia sepakbola. KASUS KETIGA: Bruno Zandonadi Bruno Zandonadi adalah salah satu legiun asing yang berkiprah di sepak bola Indonesia sejak tahun 2004. Pemain asal Brasil itu meninggal di Rumah Sakit Usada Insani, Tangerang, Sabtu 13 Oktober 2012. Zandonadi sempat mengalami koma selama empat hari akibat sakit radang otak yang dideritanya. Menurut sang istri yang seorang WNI, Annisa Sanjaya, Zandonadi sudah tiga bulan mengalami sakit di bagian kepalanya namun tidak dihiraukannya. Sampai akhirnya, Zandonadi pingsan dan koma kemudian dirawat di rumah sakit. Zandonadi meninggalkan seorang putri bernama Isabel Nezwa Zandonadi. Di akhir hidupnya, dia kesulitan keuangan karena sudah tidak membela klub manapun. Sang istri sampai meminta bantuan ke berbagai pihak untuk membantu biaya pengobatan. Karier Zandonadi dimulai sejak tahun 2004 dengan membela Petrokimia, kemudian Persita Tangerang, Persikota, Persiba Balikpapan, dan PSIS Semarang. KASUS KEEMPAT: Miroslav Janu Bulan januari 2013 silam, Miroslav Janu ditemukan tak sadarkan diri di kamar mandi di apartemen nya. Meski sempat dilarikan ke RS, pelatih yang pernah menangani PSM Makassar, Arema dan Persela Lamongan ini tak tertolong. Ia meninggal pada usia 53 tahun akibat penyakit jantung. Tragisnya, gaji pelatih asal Republik Ceko ini masih dihutang oleh mantan klub nya, Persela Lamongan. Gajinya ditunggak selama 5 bulan sebesar 750 juta rupiah. KASUS KELIMA: Syilla Mbamba, Camara Abdoulaye Sekou dan Salomon Begondo Ya, kasus kelima ini melibatkan 3 pemain: SYILLA MBAMBA asal negara Mali, SALOMON BEGONDO asal Kamerun dan CAMARA ABDOULAYE asal negara Guinea. Ketiga pemain asal benua Afrika ini bermain untuk 2 tim merger saat ini, yaitu Persipro Probolinggo dan Bondowoso United yang tampil di Divisi Utama PSSI tahun 2012 silam. Mereka terpaksa mengamen di jalanan akibat gaji yang belum terbayar. Ketiga pemain ini mengaku belum mendapatkan gaji selama 6 bulan, dan hanya menerima 15 persen dari nilai kontrak. Dalam aksinya, mereka membawa kardus yang bertuliskan. "Tolong Koin untuk Pemain Asing Persipro", "Tolong bayar uang kami", dan tulisan "Tolong hargai pengorbanan kami selama satu musim". Sebelumnya, ketiga pemain ini sempat menemui jajaran manajemen, namun bukannya hak yang seharusnya mereka dapat, janji-janji kosong yang mereka raih. KASUS KEENAM: Sergei Litinov Sergei Litinov hidup terlunta-lunta di Kota Solo karena gaji selama tiga bulan belum diberikan oleh klubnya. Sergei Litinov terpaksa bekerja di warung jus untuk bertahan hidup. Pemain asing asal Rusia ini sebelumnya tercatat menjadi pemain belakang PSLS Lhoksumawe Aceh pada musim 2013/2014. Ia mengaku selama enam bulan dirinya belum mendapatkan gaji dari klubnya tersebut. Kesal dengan janji palsu klub tersebut, membuat Sergei memilih pergi ke Solo. Selain ada beberapa teman tinggal di Solo juga dirinya mempunyai kenangan di Kota Bengawan saat membela Solo FC yang berlaga di IPL pada beberapa musim sebelumnya. Sambil menunggu janji pelunasan gajinya oleh PSLS Lhoksemawe, Sergei pun bekerja di sebuah warung jus buah milik warga setempat untuk menyambung hidup. Tak hanya masalah tunggakan gaji ke pemain asing, tapi juga tunggakan ke pemain lokal kita masih sesekali terjadi hingga saat ini di Liga Indonesia. Kasus kasus macam begini tampaknya menjadi salah satu PR bagi kepengurusan PSSI yang baru hasil kongres kemarin.
Мой аккаунт